HITAM & PUTIH KEHIDUPAN

Assalamu Alaikum Wr, Wb "SYUKUR ADALAH PENAWAR DARI SEMUA RASA SAKIT"

Rabu, 21 November 2007

Mengapa aku harus bertanya...?

Tentang sebuah pilihan..
hidup selalu tentang memilih..
memilih yang terbaik diantara pilihan terburuk..
mungkin manusia terlalu egois untuk sekedar memilih salah satu dari pilihan yang ada di depan matanya.. manusia lupa,,mereka hidup di alam nyata bukan alam bawah sadar mereka..
manusia itu termasuk
aku..
aku terlalu lelah belari dari kenyataan.. kenyataan yang hanya membuat diriku ingin mencaci diriku sendiri,,
sepertinya hidupku hanya berjalan pada saat aku tidur,, aku sungguh tak ingin bangun dari tidur malamku,, karena mimpi-mimpi tentang dia dan diriku yang selalu hadir bagaikan slideshow panjang perjalanan hari demi hari,, mimpi itu datang tak terbendung,, memuncakan segala asa yang terbuang di siang hari,, aku menikmatinya.. sungguh menikmatinya..
aku takut harus terus hidup dalam bayang mimpi (yang tak akan pernah jadi nyata) tersebut.. aku takut kalau itu adalah pilihanku untuk tetap dapat menjalin kehidupannku yang tersisa!!
kadang aku berfikir,, untuk apa aku terus dan terus menutup diri ini dari rasa yang ada di hati ini.. rasa ini datang tanpa aku ketahui,, walau aku sudah berusaha menutupinya dengan segala ego dan kesombonganku.. entah mengapa malah rasa itu semakin menjadi!! tidak akan ada yang lebih menyakitkan dari dipercundangi oleh rasa cintamu sendiri,,

Apakah arti bahagia....?

Luna kelam, tabur bunga jingga sejuta nestapa. Merajut kalut hati dalam rintih hujan semesta. Apakah arti bahagia.... apalah arti tawa.... jika tangis derita, masih memilih cerita tentang dia.
Masih….ceritatentang aku dan dia....

Dia datang, dia sapa, dan cinta harus buta, salahkah aku tak mendua...

Roman malam cerita tentang dia, tentang kisah cintanya.... Sungguh pun aku tak mengenal pribadinya...

Segitiga cinta, prahara jiwa terguncang karenanya... Segitiga cinta, indah... sayang, hampa ungkapkan rasa... tawarkan seribu lingkaran luka, dengan satu gelak tawa. Segitiga cinta, pun aku terjebak sedalamnya... tanpa asa....

Terang bintang, lampu temeram, cinta terlarang mengerang. Dalam sunyi ku terdiam, mencari arti sebuah harapan.... sebuah harapan akan pengampunan....

Sungguh.... elegi mengayun ragu hatiku. Perlahan kalbu, melantun langkah kaki seribu, atau... harusku berjibaku dengan waktu...

Robek luka terhujam badai kelabu, rentan masa lalu mengurungku, mengurung relung sukma batinku.. sudut pandang menyingkap langkah pergimu. Dengan senyum sayu, ku tegur lambaian sapamu. Berhujan peluh ku diam terpaku, menatap gelap aura membisu. Sayangku lepas pelukku.... salahku usap tetes matamu... bodohku lepas genggamanku. Hanya diam... diam... diam... kututup mataku, menggontai semu, berharap deras derai November berlalu......

Kini...surga tlah berlalu. Kini... mimpi itu tlah tersapu. Kini... ’rani tanggalkan cintamu. Kini... hanya deru, debu, dan abu sehela helai nafasku. Hati terlanjur beku, bibir berhati tabu, raga lelah berjibaku pun jiwa terluruh lapuk. Angkuh, ku katakan cinta... jumawa, ku ungkap rindu..... berlari, dan terus berlari dalam lelah teriakku... ’yuyun, aku cinta cintamu...!!!

Don't ask me about Love

“Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. Ia bermula dari ujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda “

(Kahlil Gibran)

Cinta itu buta. Ada ungkapan yang bilang seperti itu. Karena jika kita mencintai seseorang, semua yang buruk2 tentang seseorang itu seolah lenyap, yang nampak hanya yang baik. Jika kita mencintai seseorang, kadang semua ratio kita hilang, semua akal sehat kita lenyap. Semua apa yang tak mungkin menjadi mungkin atau dipaksa menjadi mungkin.
Tadi siang ada teman vie yang curhat. Dia baru ditinggalin cowonya karena ada orang lain yang suka dengan cowonya itu sejak dari dulu, dan yang terpenting dia seiman dengan cowonya itu. Lima tahun padahal mereka menjalin hubungan. Wasting time banget ya? Lima tahun perjalanan akhirnya kandas karena masalah yang prinsip itu, perbedaan iman. Yang vie ngga habis pikir, kenapa mereka ngga memikirkan itu ketika pertama kali jalan bareng? Apalagi sejak semula mereka tahu dan sadar bahwa masing2 ngga akan bisa ikut ke kepercayaan yang lain karena latar belakang keluarga mereka sama2 kuat dalam hal agama. Yang lebih tragis lagi, si cowo itu langsung menjalin hubungan lagi dengan cewe lain yang katanya udah lama suka dia dengan alasan dia mau serius menjalin hubungan dengan orang yang seiman. Loh..memangnya dulu dia ngga serius gitu waktu jalan ama teman vie itu?

Yah seperti itu kali cinta. Buta. Ga pernah mikir panjang. Pasti mikirnya, ah itu gampang dipikirin nanti..yang penting jalan dulu.. semua bisa diurus belakangan. Padahal menurut vie kalau menyangkut prinsip apalagi ini masalah iman ngga bisa diurus belakangan. Harus dipikirkan dari awal. Jadi kalau sejak pertama sudah tahu beda harus siap dengan segala konsekwensinya jika nekat jalan terus. Termasuk resiko terburuk kaya temen vie tadi. Lima tahun yang tanpa hasil…hehehe…

Memang sih ada pasangan2 yang beda keyakinan bisa berhasil sampai merid, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. kebanyakan gagal ditengah jalan. Karena masing2 ngga mau atau ngga bisa ngalah ikut ke yang lainnya, ditentang keluarga, ngga siap dengan segala perbedaan yang nanti harus dijalani, atau memang akhirnya sadar sendiri bahwa ngga mungkin buat diterusin.

So daripada wasting time seperti itu, kenapa ngga sejak awal dipikirkan? Bukankah kita menjalin hubungan dengan seseorang inginnya pasti serius untuk jangka panjang dan pasti berharapnya orang tsb adalah orang yang akan menemani sisa usia kita nanti? Jika memang tendensinya seperti itu seharusnya sejak semula semua hal yang menyangkut prinsip itu harus dipikirkan. Ngga cuma buat senang2 aja dulu tus hal itu dikesampingkan. Karena hal seperti itu ngga akan hilang ditelan waktu. Justru hal itu seperti bom waktu yang sewaktu2 meledak menjadi masalah besar. kalau sudah demikian tinggalah gigit jari. Penyesalan.

Kamis, 04 Oktober 2007

Di manakah "Perbedaan"?


Bisakah air itu mereguk dirinya sendiri?
Dapatkah pohon menikmati rasa buah yang
dihasilkannya?
Ia yang memuja Tuhan harus berdiri terpisah dariNya
Begitulah ia akan mengenal cinta Tuhan
yang menggembirakan
Sebab jika ia berkata bahwa Tuhan dan ia adalah satu
Kegembiraan itu, cinta itu, segera akan lenyap

Jangan lagi berdoa untuk bersatu dengan Tuhan
Dimanakah lagi keindahan,
jika permata dan cincinnya adalah sama?
Panas terik dan bayangan adalah dua hal,
Jika tidak, dimamnakah kesejukan bayangan?
Bunda dan putra adalah dua,
Jika tidak, dimanakah cinta?
Dikala bertemu kembali setelah lama berpisah
Alangkah gembiranya mereka, bunda dan putra itu!
Dimanakah kegembiraan, jika keduanya adalah satu?
Karena itu janganlah berdoa lagi untuk bersatu dengan Tuhan.

Coba saja didunia ini tidak ada perbedaan jenis kelamin. Apa jadinya
kalau pelangi itu warna tidak berbeda-beda. Dan, banyak orang yang
ingin melihat perbedaan itu; karena orang itu berpikir dan mendengar
bahwa perbedaan itu indah. Seorang yang buta warna ingin melihat
pelangi, karena dia mendengar "...pelangi pelangi, alangkah indahmu,
merah kuning hijau, dilangit yang biru..."

Rabu, 03 Oktober 2007

Menggenggam waktu meraih prestasi


Diasuh oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

Apakah yang menjadi resep teramat jitu, yang dimiliki para sahabat Nabi SAW yang menjadi balatentara Islam ketika itu, sehingga mereka mampu menaklukkan dua imperium adidaya, Romawi dan Persia, yang balatentaranya amat kuat dan perkasa? Resepnya ternyata tersimpul dari pengakuan penuh kekaguman dari seorang anggota dinas intelejen Romawi setelah melakukan kegiatan mata-mata di Madinah. Kepada Kaisar Romawi ia mengutarakan kesannya tentang watak kaum muslimin, "Ruhbaanun bil-laili, firsaanun binnahaar!" Ya, mereka, kaum muslimin itu, kalau malam tak ubahnya seperti rahib, sedangkan kalau siang sungguh bagaikan singa!

Umat Islam ketika itu mampu memadukan dua kekuatan ikhtiar yang sungguh luar biasa, sehingga menghasilkan sesuatu yang, subhanallah, sangat
luar biasa pula. Tubuh dan pikiran seratus persen digunakan untuk berikhtiar, bersimbah peluh berkuah keringat. Dikerahkan segenap potensi yang telah dititipkan ALLOH Azza wa Jalla, demi teraihnya suatu prestasi tertinggi, suatu karya terbaik. Dengan demikian, jadilah ia muslim yang unggul, prestatif, dan patut dibanggakan. Selain itu, hati pun seratus persen digunakan berikhtiar dengansekuat tenaga untuk ber-taqarrub
dan mengejar pertolongan ALLOH, sehingga menjadi hamba yang ridha dan diridhai-Nya. Jadilah ia ahli ibadah yang unggul dan prestatif, kekasih ALLOH Azza wa Jalla, yang akan dikuatkan-Nya manakala ia lemah, yang akan dicukupkan-Nya ketika ia dalam kekurangan, yang akan dilapangkan-Nya bila ia dalam kesempitan, yang akan ditenteramkan-Nya tatkala ia dilanda gelisah, serta akan ditolong dan dibela-Nya sekiranya ia dianiaya dan disakiti. Bagi hamba ALLOH yang unggul dalam ibadah kepada-Nya, maka baginya ALLOH itu dekat, "...fa innii qariib. Ujiibu da'wataddaa'i idzaa da'aan" [Q.S. AI-Baqarah (2): 186]. Aku adalah dekat. Aku mengabulkan orang yang berdo'a apabila ia mendo'a kepada-Ku! Bahkan, baginya ALLOH itu teramat dekat. "...dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." [Q.S. Qaf (50): 16]

Gambaran seorang muslim yang unggul dan prestatif memang ibarat rahib dalam kualitas ibadahnya dan laksana singa dalam kualitas semangat
jihadnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya untuk menjadi seorang pribadi yang unggul? Salah satu kuncinya yang utama adalah kemampuan menggenggam waktu. Secara syariat, siang dan malam itu terdiri atas 24 jam. Seberapa besar seorang muslim mampu menggunakan waktu yang telah disediakanALLOH tersebut? Dengan kata lain, seberapa mampu seorang muslim mampu melakukan percepatan diri?
Kita ibaratkan dalam sebuah lomba balap sepeda. Ketika pistol diletuskan, tampaknya orang yang menjadi juara dalam balap sepeda tersebutadalah orang yang dalam detik yang sama bisa mengayuh sepedanya lebih kuat dan lebih cepat daripada yang dilakukan oleh orang lain, sehingga dia akan melesat mendahului pembalap yang lain karena energi yang dipergunakan dan ketepatan gerakannya lebih baik daripada detik yang sama yang dilakukan orang lain.

Artinya, keunggulan itu sangat dekat dengan orang yang paling efektif dalam memanfaatkan waktunya. Islam adalah agama yang paling dominan
mengingatkan kita kepada waktu. ALLOH sendiri berkali-kali bersumpah dalam AI-Quran berkaitan dengan waktu. "Wal 'ashri (Demi waktu)," "Wadh dhuha (Demi waktu dhuha)." "Wal lail (Demi waktu malam)." "Wan nahar (Demi waktu siang)." ALLOH pun telah mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu minimal
lima kali dalam sehari semalam: Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, 'Isya. Belum lagi tahajjud pada sepertiga akhir malam dan shalat Dhuha ketika matahari terbit sepenggalah. ALLOH mengingatkan kita untuk selalu terkontrol dengan waktu yang ada.
Oleh sebab itu, tampaknya tidaklah perlu bercita-cita yang hebat bagi orang-orang yang menganggap remeh waktu karena kunci keunggulan
seseorang justeru terletak pada bagaimana dia mampu memanfaatkan waktu secara lebih baik daripada yang dimanfaatkan oleh orang lain.

Dua puluh empat jam adalah waktu sehari semalam yang sama diberikan kepada setiap orang.
Ada yang bisa mengurus dunia. Ada yang mampu
mengurus perusahaan raksasa.
Ada yang bisa mengurus berjuta-juta manusia.Akan tetapi, ada juga orang yang selama dua puluh empat jam tersebut mengurus diri sendiri saja tidak sanggup. Padahal, jatah waktu yang dimilikinya sarna.
Jangan salahkan siapa pun kalau kita tidak merasakan gemilangnya hidup ini. Hal pertama yang harus kita curigai adalah bagaimana komitmen
kita terhadap waktu yang kita jalani ini. Hendaknya selalu melakukan evaluasi diri. Kalau kita termasuk orang yang sangat menganggap remeh atas
berlalunya waktu, tidak merasa kecewa manakala pertambahan waktu tidak menjadi saat bagi peningkatan kemampuan diri, maka berarti kita memang akan sulit menjadi unggul dalam hidup ini.

Kita berpacu dengan waktu. Satu desah nafas adalah satu langkah menuju maut. Rugi besar kalau kita banyak keinginan, banyak angan-angan,
banyak harapan, tetapi tidak meningkatkan kemampuan. Padahal setiap detik, menit, dan jam adalah peluang bagi peningkatan kemampuan: kemampuan keilmuan, kemampuan diri, kemampuan kelapangan dada kemampuan ibadah. Barangsiapa yang dalam setiap waktu yang dilaluinya selalu tamak dengan upaya meningkatkan kemampuan diri, maka tidak usah heran kalau ALLOH akan memberikan yang terbaik bagi diri kita. Insya ALLOH! ALLOH-lah Pemilik segala-galanya. Akan tetapi, kalau di dalam diri ini tidak ada peningkatan apa pun; ibadah tidak semakin khusyuk dan ikhlas, hati tidak semakin bersih, ilmu tidak semakin tinggi, kekuatan pun tidak bertambah, maka yang tinggal hanyalah angan-angan belaka. Tidak lebih dari itu. Karena, sebetulnya yang terlebih penting bukanlah hanya keinginan, melainkan kemampuan -- dan itulah yang menjadi jawaban terbaik dalam mengarungi kehidupan ini.

Waspadalah terhadap waktu. Setiap waktu yang kita lalui harus kita perhitungkan dengan secermat-cermatnya. Harus membuahkan peningkatan. Kita harus berbuat lebih baik daripada yang dilakukan oleh orang lain. Hendaknya kita tidak sekadar bekerja keras saja, tetapi yang jauh lebih baik adalah bahwa kita harus bekerja keras dan efektif! Banyak orang yang sibuk bekerja tetapi juga sibuk tertinggal, sibuk lupa, serta sibuk mencari sesuatu yang seharusnya tidak dia cari karena semuanya harus sudah siap. Pendek kata, banyak orang yang tampak sibuk, tetapi ternyata tidak efektif. Bukanlah hal seperti ini yang diharapkan.
Ada orang yang duduk di depan meja dengan maksud untuk belajar. Belum beberapa detik saja dia duduk, sudah disibukkan dengan mencari ballpoint, sibuk mencari buku yang lupa meletakkannya, sibuk menjerang air untuk ngopi, sibuk melihat foto si dia yang dipajang di sudut meja. Memang dia duduk selama dua jam menghadapi meja, tetapi tidak menghasilkan apa pun. Mengapa demikian? Karena, dia tidak efektif. Untuk menjadi seorang yang efektif dalam mengatur waktu, kita harus adil dalam membaginya. Ada hak belajar, hak membantu orang tua, hak ibadah, hak peningkatan kemampuan diri, hak evaluasi, hak istirahat, hak rekreasi; semua mesti dibagi dengan adil. Sibuk dan hebatnya belajar, misalnya, tetapi tanpa dibarengi dengan istirahat bahkan tanpa diiringi dengan mantapnya ibadah kepada ALLOH, itu hanya menunggu waktu yang suatu saat akan menjadi bumerang.

"Fa idzaa faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab." [Q.S. Alam Nasyrah (94):7-8]. Kunci efektivitas adalah manakala selesai menuntaskan suatu urusan, segera bersiaplah untuk mengerjakan urusan lain. Lebih dari semua itu adalah bagaimana menjadikan segalanya sebagai ladang amal dalam
rangka ibadah kepada ALLOH Azza wa Jalla. Karena, bagaimanapun pada akhirnya "kepada Tuhanmulah kamu akan kembali" Allaahu Akbar!

Senin, 01 Oktober 2007

Cinta "Perbedaan" ....?

Selama lebih dari tiga puluh tahun menjalani kehidupan (mungkin baru sadar menjalani kehidupan setelah berusia 3 tahun), berbagai bentuk cinta kutemui. Dari bentuk paling sederhana, cinta monyet, ke bentuk yang paling mendalam, cinta orang tua kepada anaknya.

Cinta Monyet, sederhana sekali. “Aku sayang kamu, sayangkah kamu kepadaku? Kalau iya, mari kita pacaran” Hahahaha..bukankah ini bentuk paling sederhana? Waktu itu aku berbicara tentang cinta yang sebenarnya tidak kumengerti sedikit pun. Yang kutulis di buku harian dan di surat-surat yang terkirim ke “yang tercinta” tidak lain ucapan orang lain. Indah, membuai, melelapkan, menenggelamkan diri dalam impian. Cinta monyet hanyalah rasa suka, suka memperhatikan dan suka diperhatikan, namun tetap memegang peranan penting karena itulah titik awal manusia menyadari kebutuhan mencinta dan dicintai; bagaimana seseorang merasa membutuhkan perhatian orang lain, orang yang khusus; pengalaman pertama dengan rasa cemburu; dan pengalaman pertama putus asa karena tidak mendapatkan balasan; serta pengalaman pertama bersama-sama membagi perasaan kepada orang lain di luar keluarga. Sembilan puluh persen cinta monyet ini berujung pada kegagalan; putus. Salah satu penyebabnya adalah ini pengalaman pertama. Pergolakan perasaan akan mengejutkan. Bagaimana aku menjadi sadar, setelah putus, akan keegoisan. Belum lagi ditambah dengan tuntutan-tuntutan di luar diriku di mana dalam usia muda belum dapat menghadapi kehidupan ini. Singkat kata, belum dewasa. Belum mampu mencari nafkah sendiri, belum sadar tantangan kehidupan.
Masa-masa pacaran selanjutnya membawa banyak masalah. Aneh, benar-benar aneh, mengapa harus bertanya ‘apakah cinta itu’ padahal aku merasakannya? Mungkinkah aku tidak percaya bahwa cinta adalah perasaan? Mungkinkah aku punya keyakinan bahwa cinta bukanlah untuk manusia biasa? Masa ini masalah yang tidak timbul di periode sebelumnya menjadi timbul. Idealisme dan kenyataan berseteru.

  1. Persepsi orang lain, terutama orang tua, mengenai perbedaan status ekonomi. Pameo umum, jangan mencari pasangan dengan perbedaan status ekonomi yang jauh, terutama bagi pria. Para pria takut jika calon istrinya jauh di atasnya; takut dihina;takut diremehkan sebagai kepala keluarga, takut tidak bisa membiayai standar hidup istrinya, dan juga takut pandangan sinis saudara-saudara dari pihak istri. Pria memang makhluk sensitif dalam hal harga diri…ya gak?! Hehehehe…

  2. Ketidakyakinan terhadap pacar. Masa belajar di mana semua biaya berasal dari orang tua membuat hidup ini santai (dengan catatan biayanya cukup lho). Tidak adanya masalah riil membuat orang mengada-adakan masalah. Tanpa sadar dalam waktu singkat berusaha mengenal semua tentang diri pacar; padahal itu tidak mungkin. Bagaimana kita mengetahui dan mengenal idealisme, pandangan, norma kehidupan seseorang tanpa berhadapan dengan krisis/masalah? Menurutku, cara atau bagaimana seseorang berperilaku dalam menghadapi masalah akan menunjukkan diri sebenarnya. Bukan masalah yang dibuat-buat, buat pula masalah yang kabur atau imajinatif.

  3. Perbedaan suku. Masyarakat punya pandangan beberapa ras memiliki sifat eksklusif (hanya memilih pasangan dari rasnya). Sebenarnya preferensi ini bukanlah karena eksklusivitas meski orang-orang tua cenderung mengiyakannya. Penyebab preferensi ini adalah kesamaan latar belakang, kebiasaan dan adat. Sebagai orang timur, perkawinan tidak lepas dari keluarga. Perkawinan adalah penyatuan dua keluarga. Nah, tetua-tetua keluarga memiliki kecenderungan mempertahankan tradisi turun-temurun sehingga pewarisan tradisi ini akan menjadi tekanan untuk keluarga baru menikah di mana pasangan berasal dari tradisi yang berbeda.

  4. Perbedaan agama. Semua agama yang kukenal menganjurkan pernikahan dengan pasangan dari agama yang sama. Ini bukan sesuatu yang salah; mirip dengan perbedaan suku dan tradisi. Kesamaan agama bisa memperkuat ikatan pernikahan dan mempermudah pendidikan rohani anak-anak. Namun perlu dicatat bahwa manusia seharusnya bersifat universal, artinya meskipun beda ras, tradisi dan agama, semuanya adalah anggota penduduk bumi, hehehehe…; ada moral, norma, atau nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku dan dipegang teguh oleh seluruh manusia. Cinta adalah nilai kemanusiaan universal.

  5. Perbedaan sifat. Hueee..ini lebih aneh lagi. Orang-orang senantiasa cenderung berkumpul dengan orang yang memiliki sifat yang sama; juga latar belakang yang sama. Ada daya tarik dalam persamaan-persamaan itu. Adanya daya tarik tersebut membuat penilaian terhadap orang dengan sifat yang berbeda menjadi rada ‘miring’. Di usia muda, kecenderungan menerima perbedaan sifat sangat tipis. Perbedaan sifat seharusnya memperkaya diri masing-masing namun perlu diingat bahwa tidak setiap perbedaan ada ‘matching’ nya dan tidak tiap kesamaan akan ‘matching’ juga.

Cinta orang tua kutemukan setelah usia lewat dua puluh tahun. Demikian lama aku baru menyadari cinta orang tua, mungkin penyebabnya otakku rada dodol. Di usia remaja, sebagai anak laki-laki, pemberontakan mulai muncul dan berkobar-kobar. Pemberontakan adalah proses psikologis yang mendewasakan; artinya seorang laki-laki mulai mempertanyakan nilai-nilai, dan dengan mempertanyakan semoga dia akan menemukan nilai-nilai hidupnya yang kemudian akan dibawa ke keluarga yang akan dibentuknya. Ada pemberontakan yang berujung negatif, ada yang mendewasakan. Pemberontakan ini adalah proses lepas dari kekuasaan atau wewenang orang tua.
Menjelang usia tiga puluhan aku baru benar-benar menyadari cinta orang tua meski banyak kejadian-kejadian pahit yang harus kulalui dan aku mempelajarinya dari keluarga orang lain. “Rumput tetangga lebih hijau”, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak”. Dari cinta orang tua lah aku sadar arti cinta sebenarnya. Bagiku cinta orang tua kepada anak adalah cinta tanpa syarat karena:
1. Sejelek, sesalah apa pun si anak, orang tua tetap berusaha membiayai dan mengusahakan terbaik buat anaknya.
2. Keadilan kasih sayang di antara anak-anak bukan masalah besar. Kalau ada ‘anak emas’ itu karena kecocokan antara anak dan orang tuanya. Kasih sayang sebenarnya adalah membiarkan anak berkembang sesuai dengan keinginannya.
3. Saat terakhir seseorang, hal yang biasanya teringat adalah anak. “Si itu gimana yah kalo aku tinggal?”, “wah, anakku belum berkeluarga”, bla bla blah.

Ada yang tidak setuju denganku bahwa cinta orang tua adalah cinta tanpa syarat. Beberapa komplain bahwa orang tuanya senantiasa memaksakan kehendak. Betul..itu betul; namun ingat bahwa orang tua juga memiliki keterbatasan. Mereka akan mendidik anak-anak dengan keterbatasannya itu. Singkat kata, mereka juga senantiasa belajar mengaktulkan ‘cinta’. No one is perfect.
Mau berontak? Silakan saja, sah-sah saja, asalkan jangan menutup diri terhadap lingkungan dan masukan dari orang-orang lain. Hidup ini belajar. Aku yakin, dengan syarat tidak menutup ‘mata’, dengan berlalunya usia seseorang akan makin mengerti cinta yang telah diberikan orang tuanya.
Bagaimana dengan cinta terhadap seseorang? Nah..ini dia bagian yang seru. Tapi aku sudah cape, ntar lain kali nyambung lagi soal cinta terhadap seseorang ini.

Jumat, 28 September 2007

Terima Kasih Telah Memberiku Kasih

Terimakasih Tuhan,

untuk setiap detik dalam hidupku,
untuk setiap bahagia dan sedihku,
aku tak dapat mengatakan yang lain kecuali rasa syukur.

Terimakasih Bunda,
untuk namaku yang kau sebut di setiap doamu,
untuk setiap dongeng yang kau ceritakan menjelang tidurku,
dan setiap harapan yang kau bisikan dalam mimpiku.

Terimakasih Ayah,
untuk setiap tetes keringat yang kau korbankan,
untuk setiap semangat yang kau tanamkan untukku,
akan ku buktikan bahwa aku mampu.

Terimakasih Adik,
untuk ejekanmu dan semua tingkah bodohmu,
untuk setiap canda dan perhatianmu,
meskipun aku jarang mengatakan ini padamu,
aku bangga dan sayang padamu,
jangan menyerah dalam langkahmu.

Terimakasih Teman,
untuk setiap tawa kalian yang mewarnai hari-hariku,
untuk setiap tangan yg membantuku berdiri setelah aku terjatuh,
setiap telinga yang kalian pinjamkan untuk mendengar keluh kesahku,
tanpa aku banyak berkata,
aku tahu kalian pasti mengerti.

Dan untuk Kamu,
meskipun kamu tidak tahu dan tidak menyadari,
kamu salah satu alasan aku tetap semangat melangkah,
mengingatmu membuat aku tersenyum sekaligus membuat aku menangis,
tapi tidak apa-apa selama kamu bahagia aku akan tetap tersenyum,
terima kasih untukmu juga,
perjuangkan dia untuk mimpi-mimpi yang akan kau buat nyata.